Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 April 2012

RUU Perguruan Tinggi : Lepas Tanggung Jawab Pemerintah Dengan Mengkomersialisasikan Pendidikan


Oleh : Mutakin (Aktivis PMII Cabang Bandar Lampung)

UUD 1945 Pasal 31, ayat 3 menyebutkan, "Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang. Pasal tersebut sudah jelas, bahwa pemerintah berkewajiban memberikan pendidikan kepada rakyatnya dengan memperhatikan kemampuan masyarakat untuk menjangkau biaya pendidikan.  namun akibat menguatnya liberalisasi ekonomi dan krisis multidimensi di Indonesia memberikan legitimasi pada pemerintah untuk melakukan komersialisasi pendidikan. penyelenggaraan yang pada mulanya merupakan tanggung jawab negara, kemudian dengan RUU PT tanggung jawab itu akan diserahkan kepada Perguruan Tinggi. Kandungan RUU PT tersebut adalah menginginkan otonomi perguruan tinggi (semua urusan pengelolaan perguruan tinggi diserahkan kepada pihak aparat PT tersebut).

Dengan disahkannya UU PT ini, aset PT bebas disewakan oleh PT dengan biaya mahal dan pihak PT bebas membuat usaha untuk memperoleh biaya pembangunan kampus dan mutu pendidikan di perguruan tinggi. Sehingga PT tidak lagi memiliki budaya akademik melainkan budaya ekonomis. Para dosen tidak lagi memiliki mentalitas pendidikan melainkan mentalitas pedagang.

Rencananya RUU PT  akan di sahkan oleh Komisi X DPR pada tanggal 10 April 2012. Sebelum disahkannya RUU PT banyak tanggapan dari berbagai kalangan masyarakat, baik dari kalangan mahasiswa maupun pihak perguruan tinggi swasta. Karena mereka menilai sangat merugikan rakyat kecil dan beberapa ketentuan dinilai merugikan kelangsungan PTS.

Menurut pengamat pendidikan  M Abduh Zen bahwa, skema Rancangan Undang-Undang Pendidikan Tinggi (RUU-PT) dipayungi pemikiran otonomi PT sehingga gagasan dan semangat yang muncul melepaskan tanggung jawab pemerintah terhadap pembiayaan pendidikan. Hal ini akan menjadi sumber komersialisasi pendidikan tinggi dan akan semakin menjatuhkan kualitas pendidikan tinggi Indonesia. Dengan skema seperti yang ada di RUU PT tersebut aparat kampus akan sibuk dengan urusan bisnis dan bahkan iklim akademik kampus tergerus oleh aktivitas bisnis. 

Edy suharto menyatakan bahwa, ada beberapa alasan yang mendasari terjadinya komersialisasi pendidikan diantara : 1) swastanisasi; diibaratkan seperti barang-barang konsumsi lainnya, pendidikan tidak lagi dipandang sebagai public good, melainkan private good yang tidak lagi harus disediakan oleh pemerintah secara massal untuk menjamin harga murah. 2) pemerintah merasa tidak memiliki dana yang cukup untuk membiayai sektor pendidikan. Keadaan ini bisa real pemerintah kekurangan dana namun bisa juga palsu. Artinya, pemerintah bukan tidak mampu, melainkan tidak mau atau tidak memiliki visi untuk berinvestasi di bidang pendidikan.  pemerintah lebih suka membelanjakan anggaran untuk membeli mobil mewah dan membangun gedung mewah. 3) pemerintah tidak mampu mengelola pendidikan sebagai sektor publik dengan baik 4) lembaga pendidikan dalam hal ini perguruan tinggi selama ini tidak memiliki kreativitas dan inovasi sehingga hanya mengandalkan mahasiswa sebagai target utama perolehan dana.

Apabila RUU PT disahkan dengan isinya masih tetap seperti yang ada pada draf awal (tetap mengkomersialisasikan pendidikan) maka akan berdampak : 1) Pendidikan menjadi (barang mewah) mahal yang sulit dijangkau oleh masyarakat luas, khususnya masyarakat kurang mampu. 2) Rantai kemiskinan semakin mustahil diputuskan oleh pendidikan. 3) Perubahan misi pendidikan yang pada mulanya bertujuan untuk mencerdaskan dan memberdayakan masyarakat menjadi pola mencari keuntungan.  Civitas akademik lebih tertarik mencari pendapatan daripada mengembangkan pengetahuan. Sehingga di PT lahir fenomena dua kategori dosen, yaitu: “dosen luar biasa” dan “dosen biasa di luar”. 4) memacu konsumerisme dan gaya hidup mewah.  Mahasiswa lebih banyak lagi yang membawa mobil mahal (milik orang tuanya). 5) Memburuknya kualitas SDM dan kepemimpinan masa depan. PT didorong meningkatkan akumulasi kapitalis sebesar-besarnya. PT akan lebih banyak menerima mahasiswa gedongan meski memiliki IQ pas-pasan. Mobilitas sosial vertikal hanya akan menjadi milik orang kaya yang mampu sekolah tinggi, meskipun secara intelektual diragukan.

Senin, 05 Maret 2012

TRAINING MANAJEMEN USAHA NELAYAN TRADISIONAL DI DESA SUKARAJA KECAMATAN RAJA BASA KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

Aswaja_Post(1 Maret 2012) Kemarin tanggal 29 Februari 2012 PC. Lakpesdam NU Kabupaten Lampung Selatan melalui Program PNPM Peduli Mengadakan ”Training Manajemen Usaha Nelayan di Desa Sukaraja Kecamatan Raja Basa Kabupaten Setempat. Sasaran kegiatan adalah masyarakat Desa Sukaraja yang telah tergabung kedalam kelompok Pelangi Bahari yang beranggota 21 orang dan Harapan Makmur 21 orang.  Kegiatan ini bertujuan agar nelayan dapat meningkatkan hasil tangkapnya dan ibu-ibu atau anggota perempuan yang tergabung dalam kelompok dapat mengolah hasil tangkapan.  Seperti yang di sampaikan oleh Muslihun, S.Sos Ketua PC.Lakpesdam NU Kabupaten Lampung Selatan pada pembukaan acara tersebut ”harapan saya setelah mengikuti training ini bapak-bapaknya bisa memperbanyak hasil tangkapannya kemudian ibu-ibu yang nunggu dirumah siap untuk mengolah ikan hasil tangkapan bapak-bapaknya menjadi makanan siap konsumsi seperti Bakso Ikan”. tutur Badar sapaan akrab Muslihun.

Sama halnya yang di sampaikan oleh Mutakin selaku CO PNPM Peduli Kabupaten Lampung Selatan ketika ditemui setelah berlangsungnya acara ”Pada kesempatan training kali ini kami bermaksud memberi motivasi kepada nelayan tangkap agar dapat meningkatkan hasil tangkapnya dengan mendatangkan tenaga profesional yang sudah berpengalaman serta ingin memberikan pelatihan pengolahan dan pemasaran bakso ikan yang telah direncanakan kelompok dengan mendatangkan tenaga profesional. Selain itu diberi gambaran tentang tekhnologi yang akan dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan yaitu atraktor cumi. Terlihat tadi ketika peserta mengikuti kegiatan simulasi pembuatan Bakso Ikan yang di pandu oleh tenaga ahli dan berpengalaman.

Sekilas kami tulis alur pembuatan bakso ikan yang di praktikkan peserta saat pelatihan :
-       Mempersiapkan tempat dan alat-alat praktik
-       Mendatangkan Ikan segar,yang kemudian dibersihkan.
-       Proses disiangi
-       Difilet
-       Buang kulitnya
-       Pelumatan
-       Penimbangan
-       Penambahan bumbu
-       Pengadonan
-       Pencetakan bakso.
 Setelah melakukan peraktik pembuatan kelapa usaha bakso ikan ini harapannya keluarga nelayan dapat mengolah hasil tangkapan mereka, sehingga mereka tidak tergantung lagi dengan tengkulak tempat biasa mereka menjual ikan hasil tangkapan.  Dengan adanya pelatihan-pelatihan ini nelayan dan keluarga nelayan di ajak untuk bermimpi sukses.  Seperti yang di ungkapkan Titut Sudiono selaku Fasilitator PNPM Peduli pada saat memberikan pelatihan “Kunci Kesuksesan Adalah Punya Mimpi Dan Berani Mengubahnya Menjadi Sebuah Ide Bisnis, Lalu Mulailah Usaha.
Jangan Pernah Takut Gagal, Belajarlah Dari Kegagalan. Karena Kegagalan Adalah Awal Kesuksesan. ayooo bapak-bapak/ ibu bermimpi, karena tanpa adanya mimpi kapan kita bisa menggambarkan kedepan kita mau seperti apa“ ajak Titut kepada peserta.

Sedikit melihat Out-put PNPM Peduli
Setelah dilaksanakan Program PNPM Peduli terlihat cukup banyak perubahan yang dirasakan oleh penerima manfaat maupun tim pelaksana program.  Seperti yang diungkapkan oleh Ali Raden Carita salah satu anggota kelompok Harapan Makmur kepada crew Aswaja_Post ketika ditemui disela-sela training “kami sangat senang adanya bantuan-bantuan seperti ini, karena tidak hanya diberikan bantuan berupa barang tanpa adanya pelatihan, yang kemudian bantuan tersebut sering disalah gunakan. Dengan adanya pelatihan ini saya menjadi merasa dan tau betapa pentingnya berkelompok.  Ungkap Ali.

Sama halnya yang disampaikan Ibu Romlah salah satu anggota kelompok Pelangi Bahari “saya merasakan banyak manfaat setelah mengikuti beberapa kali pertemuan atau pelatihan yang di adakan Lakpesdam ini, salah satunya kemarin-kemarin sebelum ikut pelatihan saya mau ngomong didepan banyak orang gak berani mas, sekarang sedikit-sedikit beranilah”. Ungkap romlah sambil tersenyum sedikit malu namun percaya diri.

Begitu juga halnya banyak manfaat yang dirasakan oleh tim pelaksana PNPM Peduli. Seperti halnya yang disampaikan oleh Ibu Lilik Chotimatul Ahdziyah, S.Ag selaku CO PNPM Peduli Kabupaten Lampung Selatan ketika ditemui crew Aswaja_Post disela-sela Training kemarin “program PNPM Peduli ini, bener-bener mengajak orang yang terlibat didalamnya untuk bangkit.  Banyak tantangan untuk merubah pola fikir masyarakat, dan  jujur itu susah sekali.  Namun dengan semangat kebersamaan baik dalam tim maupun dengan masyarakatnya kami sangat mengutamakan kebersamaan. Jadi seberat apapun tantangan itu, Allah beri jalan untuk mengatasinya. Terang istri Ketua PC.NU Kabupaten Lampung Selatan ini.

PELATIHAN MANAJEMEN USAHA TERNAK BEBEK DI MARGO DADI KECAMATAN SUMBER REJO KABUPATEN TANGGAMUS


Aswaja_Post (28 Februari 2012) Kemarin PC. Lakpesdam NU Kabupaten Tanggamus melalui program PNPM Peduli melaksanakan pelatihan manajemen usaha ternak bebek bertempat di Desa Margo Dadi Kecamatan Sumber Rejo Kabupaten setempat. Sasaran kegiatan ini adalah masyarakat Desa Margo Dadi yang sudah tergabung dalam kelompok Barokah yang berjumlah 50 orang. Pelatihan ini bertujuan selain untuk meningkatkan pemahaman kelompok penerima manfaat akan pentingnya manajemen dalam suatu organisasi, juga meningkatkan kebersamaan anggota kelompok.

Pada pelatihan ini peserta akan membagi tugas mereka masing-masing. Pembagian tugas ini dilakukan oleh anggota kelompok dengan dampingan  tim PNPM Peduli. Anggota kelompok dibagi sesuai dengan komposisi tugas dalam usaha ternak bebek yaitu bidang pakan bebek, pemeliharaan bebek, pengolahan hasil bebek dan pemasaran hasil bebek.  Seperti yang disampaikan Erlina, S.P selaku PO PNPM Peduli Kabupaten Tanggamus saat berlangsungnya acara pelatihan “Kita akan membagi tugas masing-masing dari anggota kelompok. Harapannya tidak ada anggota yang tidak kebagian kerjaan dalam usaha kelompok ini.  Tidak ada tumpang tindih kerjaan ke satu orang, semuanya harus ambil bagian”.  Kata Erlina.

Sampai pada pertemuan ini, sebanyak 120 ekor bibit bebek pinjaman PC. Lakpesdam NU Kabupaten Tanggamus yang sudah lama ditunggu oleh peternak telah datang dan diterima langsung oleh ketua kelompok Barokah sehari sebelum pelatihan ini. Peternak yang tergabung dalam kelompok Barokah sebelumnya mayoritas berprofesi sebagai petani dan buruh merasa senang karena dengan adanya pelatihan dan bantuan bebek seperti ini mereka bisa mengembangkan usaha kecil. Seperti yang di ungkapkan oleh M. Nasir selaku ketua kelompok “kami bersyukur dan terimakasih atas kepedulian Lakpesdam dan harapan saya bantuan dan pelatihan ini bisa terus dilakukan. Kalu kita melihat jumlah bebek tentu masih sedikit kalau dibanding jumlah anggota 50 orang.  Namun kondisi seperti adalah tantangan bagi kami dalam kelompok harus berupaya mengembangkan bebek ini agar bisa menjadi banyak. Ungkap Nasir dengan optimisnya.

Sama halnya yang di ungkapkan oleh Bapak Selamet Effendy selaku anggota kelompok peternak Barokah ketika Crew Aswaja_Post mewawancarai beliau. Demikian hasil wawancara kami:
Aswaja : Sejak kapan bapak mengikuti pertemuan/pelatihan Program PNPM Peduli?
Selamet : sejak awal atau 7 kali pertemuan.
Aswaja : apa pekerjaan bapak sebelum ada Program PNPM Peduli?
Selamet : Pekerjaan Utama Petani Sawah serta pekerjaan sampingan pengolah dan penjual telor asin
Aswaja : Apa manfaat yang bapak terima selama ada Program PNPM Peduli ?
Selamet :
-         - Menambah pengetahuan dan pengalaman
-         - Sekarang tahu akan pentingnya berkelompok
Aswaja : apa harapan dan impian bapak setelah ada pelatihan-pelatihan yang diadakan PNPM Peduli?
Selamet : Sebelumnya kan saya sudah sering mengolah dan menjual telor asin namun banyak kendala –kendala diantaranya : kekurangan bahan baku (telor), kurang paham mengatur keuangan atau permodalan serta bingung pdalam hal pemasarannya. Jadi harapan saya 1) nantinya kelompok Barokah ini bisa menyediakan secara kelompok bahan baku (telor) jadi saya tidak repot lagi nyari bahan baku, 2) secara bersama kami di kelompok bisa mencari tempat pemasaran telor asin

Anggota kelompok ternak Barokah lainnya Ibu Yuswiyarti ketika diwawancarai :
Aswaja : Sejak kapan Ibu mengikuti pertemuan/pelatihan Program PNPM Peduli?
Yuswiyarti : sejak awal, 7 kali pertemuan.
Aswaja : apa pekerjaan ibu dan suami sebelum ada Program PNPM Peduli?
Yuswiyarti : Ibu Rumah Tangga dan suami bekerja sebagai buruh bangunan.
Aswaja : Apa manfaat yang ibu terima selama ada Program PNPM Peduli ?
Yuswiyarti :
-            Menambah ilmu pengetahuan.
-            Lebih percaya diri bahwa saya bisa memelihara (usaha) bebek.
Aswaja : apa harapan dan impian bapak setelah ada pelatihan-pelatihan yang diadakan PNPM Peduli?
Yuswiyarti : harapan saya kelompok ini bisa berjalan terus. Anggota kelompoknya bisa kompak seperti awal-awal pembentukan ini. Selain itu usaha bebeknya bisa menghasilkan bibit-bibit bebek lagi.

Jumat, 02 Maret 2012

PBNU: Pemerintah Lupa Sejarah Perjuangan NU

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Said Agil Siradj, mengatakan sejarah perjuangan bangsa Indonesia tidak lepas dari peran kiai dan ulama NU. Namun, peran organisasi Muslim terbesar di Indonesia itu tidak ditulis dalam buku-buku resmi sejarah.

Padahal, peristiwa bersejarah itu sangat menentukan bagi keberadaan eksistensi terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang saat itu baru saja lahir. Yakni, peristiwa Resolusi Jihad NU yang tercetus pada 22 Oktober 1945 di Surabaya.

"Entah, memang tidak tahu, sengaja tidak tahu atau pura-pura tidak tahu sehingga sejarah panjang yang dilakukan warga NU dilupakan begitu saja dan tidak tertulis di buku sejarah perjuangan bangsa Indonesia," kata Said Agil Siradj di Surabaya, Minggu 20 Nopember 2011.

Agil melanjutkan, kaitan dengan itu kiai, ulama dan warga NU bahu membahu angkat senjata menentang ke dholiman bangsa penjajah. "Itu dilakukan di semua pelosok tanah air. Dan, pada puncaknya terjadilah pertempuran 10 Nopember 1945. Terbunuhnya Jenderal Mallaby dan peristiwa besar penyobekan bendera Belanda di Hotel Yamato yang gaungnya hingga ke telinga internasional," urai Agil.

Sementara, rangkaian 'Kirab Resolusi Jihad' itu mengusung panji kebesaran bendera NU, Sang Saka Merah Putih serta simbol perjuangan NU lainnya yang diawali di Kantor Cabang NU Jalan Pahlawan, Surabaya selanjutnya menyusuri sejumlah kota yang berakhir di Jakarta.

Selain Said Agil, sejumlah pejabat Provinsi Jatim dan Kota Surabaya tampak membaur dengan masyarakat dan simpatisan warga NU.
Bohongi Diri
Terkait Resolusi Jihad, Said Agil kembali menegaskan pemerintah diminta untuk melakukan evaluasi penulisan sejarah. Kemudian memasukkan sejarah perjuangan NU yang memang merupakan rentetan panjang sejarah perjuangan keberadaan NKRI.

Said Agil menyampaikan peran dan kontribusi NU terhadap eksistensi NKRI tidak bisa dibantah. "Mau ditutup-tutupi seperi apapun tidak akan bisa, lambat laun pasti akan terungkap," lanjut dia.

Bila kontribusi NU diabaikan, maka sama halnya bangsa ini membohongi dirinya sendiri dan itu tidak akan bertahan lama. Contohnya, peringatan Resolusi Jihad NU, 22 Oktober 1945.



Sumber : http://nasional.vivanews.com/news/read/265875-pbnu--pemerintah-lupa-sejarah-perjuangan-nu

Abdullah Faqih, Kiai Sentral di Balik Gus Dur

Kabar wafatnya pengasuh Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban, Jawa Timur KH Abdullah Faqih langsung menyebar. Ucapan bela sungkawa terus bersahutan termasuk melalui BlackBerry.

Sejumlah kalangan mengaku ikut kehilangan berpulangnya kiai khos tersebut. Salah satunya dari KH Maman Imanul Haq. Kerabat dekat KH Faqih asal Cirebon itu mengaku mendapat kabar petang tadi.

Maman mengaku terakhir bertemu almarhum KH Faqih saat menjalani perawatan di salah satu Rumah Sakit di Surabaya. Ia menyebut,
di usianya yang semakin tua Kiai Faqih kerap keluar masuk rumah sakit.

"Beliau memang kerap keluar masuk rumah sakit. Sekitar 3 bulan lalu saya masih sempat bertemu. Maaf, saat ini sedang dalam perjalanan menuju Ponpes Langitan," katanya.

Sejarah mencatat, nama tokoh NU yang disegani ini mencuat menjelang Sidang Umum (SU) Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) beberapa waktu lalu. Itu berkaitan dengan pencalonan KH Abdurrahman Wahid yang muncul sebagai Presiden RI.

Saat itu, tentang pencalonan Gus Dur muncul dua perbedaan di kalangan kaum Nahdliyin yang dipelopori oleh 'Poros Tengah' sementara yang lainnya bersikap sebaliknya. Saat itu, dua kandidat utama yakni BJ Habibie dan Megawati sama-sama juga terhalang risiko tinggi, terutama para pendukung fanatiknya.

Menghadapi situasi itu sejumlah kiai sepuh di NU menggelar pertemuan di Ponpes Langitan Tuban. Hingga akhirnya muncul istilah 'Poros Langitan' yang merupakan suara para kiai  berpengaruh yang ikut mewarnai pencalonan Gus Dur maju sebagai presiden.

Back Up

Effendi Choirie, salah satu santri Kiai Faqih, menyatakan gurunya ini sebenarnya tidak terlibat langsung dalam politik. Kiai Faqih berperan sebagai penyokong atau Gus Choi mengistilahkan sebagai "back up."

"Dulu membantu di Partai NU, PPP, PKB, dan akhirnya ketika PKB ribut-ribut, ikut berperan mendirikan partai baru lagi," kata Gus Choi yang sampai kini masih bertahan di PKB itu.

"Kalau tanpa restu beliau, PKNU tak berdiri," kata Gus Choi menyebut Partai Kebangkitan Nasional Ulama.

Sumber : http://politik.vivanews.com/news/read/292395-abdullah-faqih--kiai-sentral-di-balik-gus-dur?utm_source=dlvr.it

Jumat, 17 Februari 2012

PELATIHAN TEKNIS BUDIDAYA BEBEK PETELUR SECARA TERPADU DI PEKON MARGO DADI KECAMATAN SUMBER REJO KABUPATEN TANGGAMUS


Aswaja_Post (30 Januari 2012) PC. Lakpesdam NU Kabupaten Tanggamus melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Peduli mengadakan "Pelatihan Teknis Budidaya Bebek Petelur Secara Terpadu" kegiatan ini diadakan selama tiga hari yaitu mulai tanggal 30 Januari 2012 sampai 01 Februari 2012.  Tujuannya untuk : 1) Meningkatkan pemahaman tentang beternak bebek secara intensif. 2) Pemeliharaan bebek jauh lebih baik sehingga produktivitas telur meningkat. Sasaran kegiatan yaitu kelompok kerja ”Kelompok Barokah” yang beranggota 50 orang peternak yang sudah ditetapkan pada awal berjalannya program PNPM-Peduli.

Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Tanggamus, Kepala Desa Margo Dadi selaku aparat pemerintahan di lingkungan Kabupaten Tanggamus serta Bapak Muhidin, S.E (PW.NU Lampung) dan Ketua PC.NU Tanggamus yang senantiasa mendukung Program PNPM Peduli baik secara pribadi maupun lembaga yang mereka wakili. ”kami PW. NU Lampung melihat program PNPM Peduli ini sangat tepat untuk memberdayakan masyarakat yang terpinggirkan. Apa lagi kalau NU dalam hal ini Lakpesdam sebagai pelaksananya, karena rata-rata warga pedesaan khususnya di Provinsi Lampung adalah warga NU. Sehingga orang NU lebih paham keadaan dan keinginan masyarakat pedesaan”. Tutur Muhidin.

Pada pelatihan ini menyampaikan beberapa materi penting sebagai modal kelompok peternak mengembangkan usaha mereka. Materi tersebut diantaranya : 1) budidaya bebek petelur, 2) penyakit ternak dan cara mengatasinya, 3) tatacara analisis usaha ternak bebek, dan 4) pakan ternak. Disetiap materi ada sesi diskusi untuk lebih mematangkan materi yang disampaikan. Untuk lebih jelas isi materi dan hasil materi dapat dilihat di entri selanjutnya. Selain waktu penyampaian dari nara sumber, di akhir-akhir kegiatan pelatihan ini, peserta membentuk kelompok diskusi diberi waktu khusus untuk menganalisis keadaan usaha ternak kelompok barokah dengan metode yang telah disampaikan oleh para ahli (mereview materi).

Anggota kelompok barokah sangat aktif dalam mengikuti kegiatan pelatihan. Hal ini terlihat dari beberapa pertanyaan yang mereka lontarkan kepada nara sumber, terutama berkaitan masalah yang mereka hadapi dan bagaimana solusi untuk mengatasinya?.  Senada yang disampaikan oleh Safrul Latif selaku CO PNPM Peduli Kabupaten Tanggamus ketika ditemui crew Aswaja_Post, ia  mengatakan bahwa beneficieries selama ini menghadapi masalah yang mendasar yaitu tidak adanya kandang dan kekurangan pakan. Namun setelah diadakan pelatihan-pelatihan dari Program PNPM Peduli ini mereka sadar akan pentingnya kebersamaan sehingga mereka berinisiatif untuk membuat kandang sendiri. Tutur mas Latif sapaan akrab Safrul Latif.

Rabu, 08 Februari 2012

TRAINING PENINGKATAN KAPASITAS SOSIAL EKONOMI KELOMPOK NELAYAN DI DESA SUKARAJA KECAMATAN RAJABASA KABUPATEN LAMPUNG SELATAN


Bandar Lampung (08 Februari 2012). Kemarin Hari Selasa, 07 Februari 2012 PC. Lakpesdam NU Kabupaten Lampung Selatan melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Peduli telah melaksanakan training peningkatan kapasitas sosial ekonomi bagi masyarakat khususnya kelompok nelayan desa sukaraja Kabupaten setempat.  Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kelompok melihat peluang usaha berdasarkan potensi yang mereka miliki.  Sasaran program adalah 2 kelompok nelayan yaitu kelompok Pelangi Bahari beranggota 21 orang dan kelompok Harapan Makmur beranggota 21 orang.  Kelompok tersebut terbentuk merupakan hasil musyawarah pada kegiatan sebelumnya.

Pada kesempatan ini, dihadiri oleh Bapak Hi. RM Shaleh Baijuri selaku  PW NU Lampung sekaligus Anggota DPR Provinsi Lampung, Perwakilan dari Dinas Perikanan dan Kelautan, Ketua PC. NU Kab. Lampung Selatan dan Kepala Desa Sukaraja.

Pihak pemerintahan khususnya pemerintahan tingkat desa sangat mensupport terlaksananya program PNPM Peduli didesa tersebut.  Seperti yang disampaikan oleh Kepala Desa dalam sambutannya “Adanya program PNPM Peduli di desa kita ini merupakan hal yang luar biasa dan patut kita syukuri, karena banyak mayarakat atau desa lain yang menginginkan kegiatan seperti ini masuk ke desa mereka namun nyatanya desa kita-lah yang terpilih. Oleh karena itu saya selaku kepala desa mengharapkan kepada masyarakat khususnya yang sudah masuk kedalam kelompok dapat mengikuti kegiatan-kegiatan secara maksimal. harap Effendy MS selaku Kepala Desa.

Sholihun, S.Sos selaku ketua PC. Lakpesdam NU Lampung Selatan dalam hal ini bertindak sebagai PO PNPM Peduli Lampung Selatan ditemui di sela-sela berlangsungnya kegiatan mengatakan bahwa kegiatan ini masih ada kaitannya dengan kegiatan sebelumnya, karena pada kegiatan ini anggota kelompok akan di ajak menggambarkan intensitas usaha (nelayan) mereka serta diberikan wawasan untuk menentukan sikap dalam mencari gambaran  usaha yang akan mereka bidangi.

Pada pelatihan ini, kelompok  diberikan penjelasan tentang gambaran diversifikasi usaha nelayan oleh perwakilan dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Lampung Selatan yang sengaja di datangkan oleh tim PNPM Peduli. DPK Kabupaten Lampung Selatan mengatakan siap untuk membantu memandu cara pengolahan dan pemasaran sfesifik usaha yang diinginkan oleh masyarakat. Sehingga dikesempatan pelatihan ini masyarakat tertarik ingin mengembangkan usaha bakso ikan.

Ketika ditemui setelah mengadakan pelatihan tersebut, Mutakin selaku CO PNPM Peduli Lampung Selatan mengatakan bahwa kesuksesan program ini adalah bagaimana partisipasi peserta. Alhamdulillah pada training kali ini peserta mengikuti kegiatan dengan semangat, walaupun masih ada hal negatif yang harus di perbaiki. Kami dari tim program melihat banyak perkembangan bagi peserta setelah mengikuti beberapa kali pertemuan yang kami lakukan.  Keberani mereka dalam mengeluarkan pendapat dan menggambarkan usaha nelayan mereka saat ini adalah suatu bukti keinginan mereka mau di ajak untuk maju.

Sabtu, 21 Januari 2012

Workshop Mendorong Penguatan Kelembagaan Nelayan Tradisional di Desa Suka Raja Kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan


Aswaja_Post (21-01-2012). Letak Kabupaten lampung selatan yang berada diujung dan sabagai pintu gerbang pulau sumatera, seharusnya merupakan nilai lebih dibandingkan daerah lain, dan (diharapkan) dapat menghantarkan masyarakat menjadi  sejahtera, namun keadaanya berbalik dari yang diharapkan.  sebagian besar wilayah diujung pulau sumatera ini adalah merupakan samudera hindia dan khususnya Kecamatan Raja basa Sebagian besar masyarakatnya bermatapencaharian sebagai nelayan.  Keseharian mereka untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan bekerja sebagai nelayan. Namun hasil nelayan yang mereka peroleh belum dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Kehidupan mereka sungguh memprihatinkan karena sebagai nelayan tradisional yang tergolong kedalam masyarakat miskin yang tidak mempunyai tanah dan mereka sering kali dijadikan objek ekploitatif oleh para pemilik modal. Harga ikan sebagai sumber pendapatannya dikendalikan oleh para pemilik modal atau dalam hal ini adalah para pedagang/tengkulak, sehingga distribusi pendapatan tidak merata. Gejala modernisasi perikanan tidak banyak membantu bahkan membuat para pelayan tradisional semakin terpinggirkan.

Melihat keadaan ini, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (LAKPESDAM NU) memberikan solusi dengan mengantarkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Peduli. Solihun, S.Sos selaku Ketua Lakpesdam NU Lampung Selatan menjelaskan bahwa program PNPM Peduli ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan tradisional melalui hasil tangkapan dan pemasaran. Program ini akan diadakan dalam beberapa tahap selama kurang lebih tujuh bulan di periode tahun pertama. Sasaran program ini adalah para nelayan dan ibu nelayan yang tinggal di Desa Sukaraja dengan jumlah 40 orang. Setelah melalui beberapa tahapan, kemarin jum`at 20 Januari 2012  Program PNPM Peduli LAKPESDAM NU ini melaksanakan kegiatan “workshop mendorong penguatan kelembagaan nelayan tradisional”.

Pada kesempatan ini, hadir dalam acara perwakilan dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Lampung Selatan, Ketua PC NU Lampung Selatan, Ketua PW Lakpesdam NU Lampung dan kepala desa beserta perangkat desa serta anggota kelompok nelayan (beneficieris) dari program PNPM Peduli ini. Dalam sambutannya ketua PW Lakpesdam mengharapkan partisipasi dari berbagai fihak untuk menyukseskan program ini dalam upaya merubah pola fikir dan membangkitkan masyarakat untuk maju. Masyarakat Sukaraja Lampung Selatan ini patut bersyukur menjadi salah satu desa yang terpilih mendapatkan bantuan program PNPM Peduli dari 33 cabang yang lain se-Indonesia, Tutur Erlina. Kemudian disambung oleh Abdullah, S.Ag selaku ketua PC NU Lampung Selatan dalam memberikan sambutannya ia menyampaikan “masyarakat jangan khawatir karena program ini sangat fositif. Mudah-mudah dapat membantu bapak/ibu semua dalam mengatasi permasalah ber-nelayan selama ini. Program ini suatu bentuk kepedulian NU kepada warganya, karena NU itu sangat peduli kepada orang lain baik masih hidupnya atau setelah wafatnya orang tersebut, kalau sudah meninggal orang NU tetap peduli dengan selalu mengirim Fatehah dan Do`a”.  gurau Pak Dulah sapaan akrabnya.

Kepala desa Sukaraja dalam sambutannya menyampaikan banyak terimakasih kepada pelaksana program dan menyarankan kepada warganya agar dapat mengikuti kegiatan PNPM Peduli yang dimotori oleh LAKPESDAM NU ini dengan keseriusan.  “masyarakat Desa Sukaraja ini sudah sering mendapatkan bantuan program-program seperti ini tapi tidak pernah sampai selesai, masyarakat belum paham sudah ditinggal. Harapannya setelah program berjalan masyarakat terus diberi pembinaan” tutur dan harapan pak Effendy  selaku kepada desa setempat. Sambutan baik juga disampaikan oleh perwakilan Dinas Perikanan dan Kelautan Lampung Selatan, “kami dari Dinas Perikanan dan Kelautan sangat mengapresiasi atas kepedulian Lakpesdam NU kepada nelayan-nelayan”.

Sama halnya ketika crew Aswaja-Post menemui Mutakin selaku Community Organizer (CO) PNPM Peduli – Lakpesdam NU Lampung Selatan ia menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan pelatihan awal untuk penguatan kelembagaan atau kelompok nelayan.  Memang sebelumnya kita sudah melakukan tahap-tahap diantaranya ada agenda persiapan program “disini kita mensosialisaikan program agar beneficieris terbuka wawasan dan pemahaman mereka tentang program yang akan dilaksanakan” kemudian setelah itu kita ada workshop PPA di kegiatan ini kita pelaku program dan beneficieris dapat mengidentifikasi kelompok miskin dikomunitas nelayan”. Pada kegiatan Workshop kali ini harapannya meningkatnya partisipasi kelompok beneficieris dan kesadaran berorganisasi dalam melaksanakan program kegiatan yang telah dilaksanakan pada tahapan selanjutnya. Terlihat betapa aktif dan seriusnya kelompok beneficieris dalam mengikuti kegiatan yang dilaksanakan tadi.  Jelas mutakin mereplay jalannya kegiatan tadi yang telah terlaksana dengan sukses.