Selasa, 08 November 2011

Lakpesdam NU, World Bank dan Menkokesra Launching PNPM Peduli

Terik panas laut nampak membekas jelas pada paras Bu Dairah, seorang perempuan pesisir laut Indramayu. Dengan isak yang gemetar dan bahasa Indonesia yang bercampur bahasa Jawa Dermayonan ia menceritakan bagaimana dia dan puluhan perempuan pesisir laut Indramayu kebingungan dengan kondisi laut saat ini.
Belakangan suaminya yang seorang nelayan tidak lagi mendapat tangkapan. Jikapun melaut berhari-hari, hasil tangkapannya tak seberapa. Jangankan untuk dijual, hingga hasil penjualannya disimpan untuk biaya keempat anaknya sekolah, untuk makan saja hasil tangkapan itu tidak cukup. Bu Dairah mengungkapkan beban hidupnya kian hari kian sulit. Kesedihan perempuan 50 tahun yang tidak lulus sekolah dasar dan tidak bisa baca tulis itu terungkap dalam acara peluncuran program PNPM-Peduli yang diselenggarakan oleh PP. Lakpesdam NU bekerjasama dengan Bank Dunia di Kantor PBNU (22/7/ 2011).
Bu Dairah banyak mendengar bahwa kondisi laut sekarang yang tak lagi menyediakan ikan yang melimpah disebabkan cuaca yang tidak menentu. Karena itu para nelayan termasuk suami Dairah tidak lagi bisa membaca cuaca. Mereka melaut hanya disebabkan itulah satu-satunya kemampuan mereka dalam upaya mempertahankan hidup, hanya menangkap ikan.

Bu Dairah lalu berfikir apa yang bisa Ia lakukan untuk bisa bertahan hidup, agar mampu membiaya keempat anak-anaknya. Bu Dairah bertekad harus berbuat sesuatu. Ia yakin apa yang dialaminya pasti sama dengan puluhan istri nelayan lainnya. Maka Ia dan puluhan istri nelayan mulai berkumpul dan berbicang apa yang bisa mereka lakukan. Bersama 50 orang perempuan istri nelayan yang sama-sama tak lulus SD, Bu Dairah mulai berfikir untuk mencari pekerjaan alternatif, tidak hanya mengandalkan hasil melaut para suami. Dan membuat baso ikan adalah keahlian yang dimiliki oleh sebagian besar istri para nelayan. Tapi karena keterbatasan sumberdana, sumber keahlian tidak banyak yang bisa dilakukan oleh para istri nelayan itu dengan baso ikan mereka. Baso ikan dibuat sangat sederhana, dan pemasarannyapun sangat terbatas. “Dengan program PNPM-Peduli, kami berharap ada peningkatan pada produksi baso ikan, kami juga tahu cara menjualnya agar lebih luas..,”Ungkapnya penuh harap.

Apa yang diungkapkan oleh Bu Dairah tidak jauh berbeda dengan apa yang diungkapkan oleh Aris, Bapak 34 tahun buruh PT. Garam di Madura. Lelaki itu menceritakan Ia dan sekitar lima puluhan buruh garam sampai saat ini tidak bisa keluar dari berbagai himpitan kemiskinan. Penghasilan 150 ribu perminggu dari PT. Garam tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup mereka, bahkan hanya sekedar untuk makan. Menjadi buruh garam hanya dilakukan ketika kemarau saja, setelah itu Aris dan buruh-buruh lainnya memilih untuk mencari Kerang di laut dengan penghasilan 5 ribu rupiah sehari. Ia menceritakan bahwa sebenarnya jika saja mereka menjadi petani garam, dan bukan buruh garam mereka mungkin akan jauh lebih baik. Menjadi petani garam tidak bisa mereka lakukan karena mereka tidak memiliki lahan tambak. Di samping itu mereka tidak memiliki pengetahuan membuat garam yang sangat bagus dan menjual ke pasar yang lebih luas. Aris dan buruh lainnya bukan tidak pernah berfikir untuk mencari pekerjaan lain, atau sampingan lain tapi mereka selalu mentok pada modal dan kemampuan. Sepanjang usia hanya menjadi buruh garam dan pencari kerang membuat mereka kesulitan mencari pekerjaan lain. Aris yang tamatan sekolah menengah bahkan hanya sebagian kecil dari buruh petani garam, banyak dari mereka yang hanya lulus SD saja. Ketika mengungkapkan harapannya terhadap program PNPM-Peduli Aris menyampikan Ia dan buruh-buruh lainnya ingin dibekali kemampuan mengolah garam agar lebih berkualitas dan mendapat alternatif kegiatan lain selain mencari kerang.
 
Setelah mendengarkan testimony masyarakat yang akan menjadi penerima manfaat program PNPM-Peduli, Prof. Dr. Kacung Maridjan, ketua PBNU mengungkapkan bahwa kemiskinan masih mendera banyak rakyat Indonesia. “Namun dengan optimisme dan berkerja bersama, kemiskinan itu akan mampu diatasi,” ungkapnya penuh semangat. Ia juga menambahkan bahwa yang dibutuhkan sekarang adalah kesungguhan dari semua pihak untuk terus mengurangi kemiskinan. Dan program PNPM-Peduli menjadi salah satu kerjasama yang harus terus ditingkatkan. PBNU selaku ormas keagamaan memiliki komitmen kuat untuk melakukan pengurangan kemiskinan.
 
Lakpesdam NU menjadi salah satu executing organization yang mendapatkan hibah dana dari world Bank untuk program PNPM-Peduli. Lakpesdam NU akan melakukan peningkatan kapasitas kepada cabang-cabang lembaga NU agar cabang-cabang NU mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat miskin dan kelompok marginal. Di harapkan cabang-cabang lembaga/banom NU akan mampu bekerjasama dengan masyarakat miskin dan kelompok marginal dalam melakukan pengurangan kemiskinan (poverty reduction). Program ini akan bekerja di 11 Propinsi yakni di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Lampung, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, NTB, DIY, Maluku. Dan ada sekitar 30 Kabupaten/Kota dan 150 Desa yang tercover dalam program. Pada tahap awal, program ini berdurasi selama satu tahun yakni dimulai pada Juni 2010 dan akan berakhir pada Mei 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar